Kamis, 24 April 2014

Empat Faktor yang Membuat Sukuk Global Sepi Peminat

Pemerintah pusat semenjak 2008 telah rutin meluncurkan sukuk negara. Bahkan hingga 27 Maret lalu total penerbitan mencapai Rp 226,69 triliun. Sementara total outstanding hingga Maret 2014 telah mencapai Rp 178,08 triliun. Termasuk juga sukuk global atau SNI dengan jumlah penerbitan di 2013 kemarin mencapai 1,5 miliar dolar. Namun hingga kini Dewan Syariah Nasional MUI menyatakan belum ada korporasi atau emiten yang berencana menerbitkan sukuk global.

Anggota Badan Pelaksana Harian Bidang Pasar Modal dan Program DSN MUI, Iggi H Achsien, bahkan menyatakan tahun ini belum ada rencana emiten yang akan menerbitkan sukuk korporat global. Untuk itu, ada empat hal yang harus dilakukan pemerintah, DSN MUI dan OJK untuk mendorong penerbitan sukuk korporat global.

Pertama menurut dia, penerbitan sukuk global harus disosialisasikan. Karena saat ini, banyak emiten merasa repot menerbitkan sukuk. Padahal korporasi bisa bertanya kepada para ahli. Kemudian juga sebenarnya ada badan yang bisa mengurus penerbitan sukuk.

Kedua, hingga saat ini emiten tak merasa mendapat insentif yang cukup untuk menerbitkan sukuk.''Yang selalu dipertanyakan apakah menerbitkan sukuk lebih murah daripada obligasi global konvensional?,'' tutur dia kepada ROL, Senin (14/4). Satu hal yang saat ini ia bisa katakan, sukuk tak lebih murah, karen menurut perhitungan kurang lebih sama apalagi rate-nya. Namun ia mengaku berdasarkan pengalamannya sukuk lebih rendah 0,25 persen atau 25 basis poin.

Selanjutnya ketiga, kebutuhan diversifikasi dana dari konvensional. Saat ini banyak emiten belum merasa perlu melakukan diversifikasi. Terakhir menurut dia, kepastian perpajakan produk sukuk masih menjadi isu. Hal itu karena di saat yang sama obligasi sudah jelas aturan perpajakannya.

Di tempat yang sama, Direktur Pembiayaan Syariah, Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Dahlan Siamat menyatakan ada baiknya tak diberlakukan perbedaan antara sukuk dan obligasi. Khususnya, tutur dia terkait aturan perpajakan.

Sumber: Republika

Rabu, 23 April 2014

Penerbitan Sukuk Global 2013 Tembus US$628 Miliar

Dalam dua tahun terakhir penerbitan sukuk secara global selalu melampaui US$100 miliar. Total penerbitan sampai dengan akhir 2013 mencapai US$628,08 miliar. Menurut Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Dahlan Siamat, dana Islami mencari rumah baru mulai awal 2000-an, setelah peristiwa 11 September di Amerika Serikat (AS). Sebab, ketika itu para pemilik dana dari Timur Tengah khawatir menempatkan dananya di Amerika Serikat (AS).

“Itu adalah peluang, dan tantangannya, sejauh mana kita bisa menangkap peluang itu,” ujar Dahlan, pada seminar pengembangan sukuk global, yang digelar Islamic Banking and Finance Institute (IBFI) Trisakti, di Jakarta, 14 April 2014. Pada 2013, Malaysia masih mendominasi penerbitan sukuk secara global dengan kontribusi sebesar 69% atau sekitar US$433,37 miliar. Sementara Indonesia hanya berkontribusi 5% atau senilai US$31,40 miliar.

Dahlan menambahkan, pasar sukuk global, termasuk pasar sukuk di Indonesia diyakini akan terus berkembang. Salah satu alasannya juga karena industri keuangan syariah terus berkembang.

“Keyakinan itu ditandai juga dengan munculnya negara-negara baru pengguna pembiayaan syariah. Mereka yakin industri keuangan syariah akan berkembang,” pungkasnya.

Sumber: Infobank

Selasa, 22 April 2014

Pemerintah Siapkan Sukuk Berstruktur Wakalah

Pemerintah berencana menyiapkan penerbitan sukuk dengan struktur akad baru. Selama penerbitan sukuk negara sejak 2008, akad yang digunakan baru terbatas pada ijarah. Kini pemerintah mulai mengembangkan sukuk dengan struktur akad wakalah.

Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Dahlan Siamat, mengatakan sukuk dengan struktur baru tersebut menjadi salah satu alternatif dari penerbitan sukuk pemerintah. “Pasar keuangan cukup dinamis dan struktur wakalah memudahkan pemerintah untuk menerbitkan sukuk karena untuk underlying asetnya tidak harus seluruhnya berupa barang milik negara, misalnya 51 persen underlying aset adalah barang milik negara, sisanya proyek pemerintah,” jelas Dahlan usai Seminar Pengembangan Sukuk Global di Kampus Islamic Banking and Finance Institute, Senin (14/4).

Ia pun menargetkan sebelum akhir 2014 sudah bisa menerbitkan sukuk wakalah tersebut. “Nanti sukuk ini bisa untuk penerbitan sukuk global maupun di pasar domestik. Harapannya sudah bisa diterbitkan untuk sukuk global tahun ini,” ungkapnya.

Di tahun 2014 pemerintah berencana menerbitkan sukuk global pada semester dua, namun belum ditentukan secara pasti waktu penerbitannya. “Dalam windows penerbitan pemerintah biasanya untuk sukuk global dilakukan pada rentang waktu setelah idul fitri dan sebelum idul adha,” kata Dahlan. Sebelum penerbitan sukuk global, pemerintah akan melakukan roadshow ke sejumlah negara. Di tahun ini sejumlah negara yang dibidik diantaranya Inggris, Hong Kong, Singapura dan kawasan Timur Tengah.

Dahlan menuturkan sejak penerbitan sukuk global empat tahun lalu, para investor asing selalu antusias mengenai sukuk global pemerintah Indonesia dan selalu mengalami kelebihan permintaan hingga enam kali. Jumlah penerbitan sukuk global pun terus bertambah. Pada penerbitan sukuk global pertama kali di tahun 2010 pemerintah menyerap 750 juta dolar dan di tahun 2013 pemerintah menyerap 1,5 miliar dolar.

Dari sisi investor sukuk global, Timur Tengah mencatat porsi 30 persen, sisanya berasal dari Eropa, Asia, dan Amerika. Dalam penerbitan sukuk global juga terdapat porsi untuk investor domestik, namun dibatasi sampai 12,5 persen dari total penerbitan sukuk. Di tahun ini pemerintah menargetkan penerbitan sukuk sebesar Rp 60,3 triliun dan sampai pertengahan April 2014 telah mencapai 51 persen dari target.

Sumber: Sharing

Senin, 21 April 2014

RI eyes Europe for upcoming global sukuk

European investors will be one of the government’s main targets when it sells its upcoming US dollar-denominated global Islamic bonds (sukuk), a finance ministry official has said. The government planned to issue Rp 60.37 trillion in global sukuk (US$5.3 billion) this year, 51 percent of which had already been issued, said Dahlan Siamat, director of Islamic financing at the Finance Ministry’s debt management office.

“I have heard that Europeans are interested in buying our global sukuk,” said Dahlan during a seminar in Jakarta on Monday.

“Therefore this year, Europe, especially the United Kingdom, will be our main target,” he added.

Last year, Indonesia’s global sukuk auction was dominated by bids from Asian funds, which made up 25 percent of overall investors, followed by the US at 24 percent and the Middle East at 20 percent, while European investors only made up a small amount. Dahlan said that the government would soon conduct a road show to offer its global sukuk to several countries in Europe. It will also travel to Hong Kong, Singapore and the Middle East.

“Last year, our global sukuk was oversubscribed. I’m confident that we can relive last year’s success,” he said. The issuance of the sharia compliant bonds was more than three times oversubscribed last year, with incoming bids topping $5.6 billion.

Dahlan did not mention exactly when global sukuk issuance for the rest of this year would take place, but hinted that it would be carried out before or during the month of Ramadhan, between June and July, or after Idul Adha in October. “[During Ramadhan or Idul Adha] is usually when the government issues global sukuk,” he said.

Indonesia has offered US-dollar denominated sukuk to investors four times, the first time being in April 2009 when the government issued S$650 million ($519 million). The government then offered $1 billion in November 2011 and another $1 billion in November 2012, before its last issuance of $1.5 billion in September last year.

According to data compiled by the Finance Ministry, as of the end of 2013, Indonesia had the fourth-largest global sukuk issuance. Indonesia only made up 5 percent of the world’s global sukuk issuance, while Malaysia’s dominated at 69 percent. Saudi Arabia accounted for 12 percent of the world’s global sukuk offerings while United Arab Emirates’ share was at 6 percent. Malaysia was the first country to issue sovereign global sukuk worth $600 million in 2002. Indonesia trailed seven years later.

“We are way behind Malaysia with regard to time and regulation. We still have room for improvement,” said Dahlan.

“I do think our country has the potential to be the center of the world’s sharia finance. However, it will take a while because we are a late bloomer,” he added.

Sumber: The Jakarta Post

Minggu, 20 April 2014

TABUNGAN iB, MENABUNG SEKALIGUS BERINVESTASI

Produk tabungan di bank syariah menawarkan pengalaman baru dalam menyimpan uang secara aman dan sekaligus menguntungkan. Bank syariah menawarkan dua jenis tabungan, yang bisa dipilih oleh penabung sesuai kebutuhannya. Tabungan iB dengan skema titipan bagi mereka yang mengutamakan keamanan dana dan kemudahan transaksi sehari-hari. Dan Tabungan iB dengan skema investasi bagi mereka yang menginginkan keamanan dana sekaligus memperoleh hasil investasi yang lebih tinggi.

Penabung dapat memilih tabungan iB dengan skema titipan dan uang yang "dititipkannya" kepada bank syariah bebas diambil setiap saat ketika ia membutuhkan dana. Jumlah uangnya dalam Tabungan iB akan tersimpan aman, karena bebas dari resiko pemotongan dana ketika usaha bank mengalami kerugian. Keuntungan yang diperoleh oleh penabung dengan skema ini berupa bonus, yang besarnya sesuai dengan kebijakan masing-masing bank syariah.

Penabung yang menginginkan hasil investasi yang lebih tinggi dapat memilih jenis Tabungan iB dengan skema investasi. Dana masyarakat yang terkumpul, akan ditempatkan oleh bank syariah ke sektor-sektor usaha produktif yang menghasilkan profit. Nilai imbal hasil ini fluktuatif, sesuai dengan imbal hasil yang diperoleh bank syariah dari invetasi yang dilakukan. Bagaimana jika investasi yang dilakukan oleh bank syariah merugi? Jangan kahawatir. Karena masyarakat yang menyimpan uangnya di Tabungan iB tidak akan ikut mengalami kerugian itu. Saat ini perhitungan bagi hasil antara bank syariah dan nasabah tidak didasarkan pada profit yang diperoleh (profit and loss sharing), namun didasarkan pada pendapatan (revenue sharing). Dengan pola revenue sharing, bagi hasil kepada nasabah diperhitungkan dari pendapatan bank, sedangkan biaya-biaya yang harus dikeluarkan bank akan diambil dari bagi hasil yang menjadi hak bank. Dengan pola ini, dana nasabah yang diinvestasikan dalam tabungan iB tidak akan berkurang atau hilang meskipun investasi yang dilakukan bank syariah mengalami kerugian.

Di samping itu, Tabungan iB dengan skema titipan maupun investasi ini juga dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sesuai dengan Undang-Undang No.24 tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Tabungan iB, baik dengan skema titipan maupun skema investasi termasuk yang dijamin oleh LPS hingga nilai maksimal Rp.2 miliar.

Jadi, jangan ragu lagi. Segera buka tabungan di bank-bank syariah terdekat, dan temukan pengalaman menabung sekaligus berinvestasi dengan Tabungan iB.

*Sumber : www.ojk.go.id

Sabtu, 19 April 2014

Korporasi Tak Tergiur Terbitkan Sukuk Global

Penerbitan surat utang berefek syariah atau sukuk global dinilai tidak diminati oleh korporasi di Indonesia karena faktor insentif dan sedikitnya jumlah investor. Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kemnterian Keuangan Dahlan Siamat mengatakan penerbitan sukuk global tidak diminati karena hingga saat ini korporasi menilai tidak mendapatkan insentif perlakuan khusus terhadap perpajakan.

"Pajak tidak perlu lebih kecil dari obligasi, minimal disamakan saja dengan obligasi," katanya, Senin (14/4/2014). Faktor berikutnya, investor Sukuk di Indonesia masih tersegmentasi sehingga berbeda dengan Malaysia, Eropa dan negara-negara Timur Tengah. Pemanfaatan dana Sukuk juga terbilang masih terbatas pada perbankan syariah, asuransi syariah hingga reksadana syariah.

Jumat, 18 April 2014

Pemerintah Terbitkan Sukuk Global Semester II

Pemerintah akan kembali menerbitkan Sukuk global pada semester II/2014 dengan tenor 5-10 tahun. Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Dahlan Siamat belum bersedia menyebutkan nilai dan bunga yang akan ditetapkan dalam penerbitan Sukuk global tersebut.

"Bunga menggunakan konsep ijarah dimana kuponnya fixed, bunga baru bisa dipastikan paling belakang, diusahakan tahun ini," katanya, Senin (14/4/2014).

Pemerintah tercatat telah menerbitkan Sukuk global sebanyak 4 kali sejak 2009. Pertumbuhan permintaan Sukuk global dinilai cukup tinggi. Terbukti pada awal penerbitan Sukuk global 2009, pemerintah hanya menerbitkan US$650 juta. Terakhir, pemerintah telah menerbitkan Sukuk global sebesar US$1,5 miliar dengan permintaan lebih dari 4-5 kali lipat.

Pasar yang dibidik nanti, sambungnya, a.l. negara-negara Eropa seperti Ingris, kemudian Asia seperti Hong Kong, Singapura dan Timur Tengah. Pada penerbitan tahun lalu, katanya, mayoritas sukuk global diborong oleh investor asal Timur Tengah sebesar 30%, kemudian sisanya dibeli oleh investor asal Amerika Serikat, Eropa, dan Asia.

Adapun dalam negeri diberikan jatah sebanyak 12,5% dari total penerbitan Sukuk global. Kendati demikian, jumlah sukuk global yang diterbitkan baru mencapai sekitar 10% dari keseluruhan obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah sekitar Rp3.000 triliun.

Sumber: Bisnis Indonesia